Gue sekar, gue mau
ngelanjutin cerita gue nih yang judulnya ‘’Perjuangan Cinta yang Takkan Pernah
Padam’’. Kalian pasti taulah cerita gue itu. Kita mulai ceritanya yuk.
Hari hari yang dilewati sama sekar hanya
dengan tangisan. Tak ada yang namanya kebahagiaan. Kebahagiaannya sudah
dimiliki oleh sahabatnya sendiri yaitu Putri. Putri kini semakin dekat dengan
putra, laki laki yang diinginkan olehnya. Hingga akhirnya, putri menghampiri
rumahnya untuk menanyakan hal mengapa ia pergi gitu aja ketika ia menyatakan
perasaannya pada putra. Dengan berteriak sangat keras didepan rumah sekar
‘’ Sekar woii sekar
woii!’’ (sambil teriak kencang)
Sekar tidak
mendengar teriakan itu dan mamahnya pun segera membukakan pintu lalu bertanya
kedatangan putri ini untuk apa.
‘’Putri, kamu
ngapain kesini? Kamu bertengkar ya sama anak tante?’’ tanya mamah sekar.
Dengan gugup, putri
menjawabnya.
‘’A.....a....a....aku kesini untuk minta maaf karena
sudah membuatnya meneteskan air mata. Aku merasa bersalah.’’
‘’Emang sekar
kenapa put? Sekar tidak pernah menceritakan masalahnya kepada tante. Tante
sendiri juga bingung.’’saut mamah sekar lagi.
‘’ Dia suka sama
laki laki yang laki laki itu putri suka juga tan tapi sekar sudah menyatakan
perasaannya terlebih dahulu kepada laki laki tersebut. Dia menangis dan pergi
meninggalkan laki laki itu dengan terburu buru.’’ujar Putri.
‘’ Iyaudah put,
nanti kalau sekar udah baikan tante kabarin kamu ya?.’’cakap mamah sekar
kembali.
Akhirnya pun putri bergegas pulang kerumah.
Di tengah perjalanan, ada sebuah mobil yang mencegatnya. Pengendara mobil itu
ternyata Putra.
‘’ Ayo, aku antar kamu pulang put.’’ucap
putra.
Dengan tegas, putri menyaut omongan putra.
‘’Sudahlah, kamu galiat sekar kemarin nangis
karena siapa hah? Dia menangis karena kamu! Aku ganyangka ya kamu sejahat
itu.’’
Setelah menyaut omongan putra, putri pergi
berlari namun hari hujan. Putra bergegas mengejarnya, putra takut putri kenapa
kenapa. Putra turun dari mobilnya lagi untuk menghampiri putri.
‘’Hei, sekarang hujan. Kamu mau hujan
hujanan? Kamu mau sakit? Kalau kamu sakit, aku sama siapa?.’’tanya putra.
Putri hanya terdiam dan berlari lagi. Ia
tidak ingin membuat sekar menjadi kecewa, sedih ataupun meneteskan air matanya
hanya karena dia. Putra bingung, mengapa putri selalu menghindar darinya,
padahal putra hanya ingin menjadi teman dekat putri yang selalu ada untuknya.
Putra meninggalkan tempat itu. Yang kini ada dipikiran putra hanya putri, putri
dan putri. Putra merasakan bahwa ia suka dengan putri. Ia berfikir untuk
berjuang lebih mendapatkan putri.